Jurnal Batavia - Suara Aspirasi Publik

Persidangan Terdakwa Yuri Pratomo Terungkap Kesaksian Palsu

Wed, 16 Jun 2021 11:43:39pm Jurnal Batavia
Dibaca 9 Kali
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
IMG-20210531-WA0045

Foto: Ilustrasi

 

 

JURNAL BATAVIA – Dalam pembuktian pada persidangan dengan terdakwa Yuri Pranatomo di PN Denpasar pada Senin (15/6/2021) terungkap Hedar Giacomo Boy Syam selaku pelapor diduga mendudukkan diri secara palsu, seolah-olah sebagai pembeli tanah pada saat membuat laporan polisi di Polres Badung, Bali. 

Padahal tidak terdapat alat bukti berupa akte jual beli yang menggambarkan kedudukan hukum  Hedar Giacomo Boy Syam, selaku pembeli tanah dimana Zainal Tayeb selaku  penjual. Kemudian dengan memakai martabat palsu tersebut, Hedar Giacomo Boy Syam membangun dalil palsu dihadapan penyidik dan didepan persidangan PN Denpasar telah dirugikan oleh Zainal Tayeb sebesar Rp 21 miliar lantaran membeli tanah seluas 13.700 M2, akan tetapi yang diterimanya hanya 8.892 M.

 “Setidaknya fakta itu secara terang benderang terungkap dalam persidangan dengan saksi korban Hedar Giacomo Boy Syam dengan terdakwa Yuri Pranatomo di PN Denpasar kemarin,” ujar Alberto Immanuel, SH, Ketua Satgas Anti Mafia Hukum kepada pers, Rabu (17/6/2021).

Menurut Alberto, Hedar Giacomo Boy Syam tidak memiliki legal standing untuk mengatakan dirugikan kalaulah benar ada kekurangan luas tanah lantaran dirinya bukan pembeli tanah. Ia hanya seorang profesional yang berkerja untuk Zainal Tayeb yang mendapat imbalan komisi dari hasil penjualan perumahan. Modal kerja dan tanah milik Zainal Tayeb. 

“Uang yang diterima Zainal Tayeb dari pembayaran tanah bukanlah uang yang bersumber keuangan Hedar Giacomo Boy Syam, melainkan ia hanya meneruskan uang pembayaran konsumen,” jelasnya.

Oleh karena itu, sambung Alberto, sebaiknya majelis hakim mendalami pembuktian secara materil perkara ini. Salah satu caranya dengan melakukan sidang lapangan dengan mengukur seluruh luas tanah dalam konteks yang dikerjasamakan pada proyek perumahan Ombak Luxury Residence yang mana dasarnya adalah 9 (Sembilan) sertipikat induk kurang lebih seluas 17.012 m2  yang sudah diterima oleh Hedar Giacomo Boy Syam  pada tahun 2013, yang kemudian dari 9 sertipikat induk tersebut dilakukan penggabungan dan pemecahan dimana ada kurang lebih 3.400 m2 tanah yang tidak diperjanjikan sehingga dari total luas tanah dari 17.012 m2 hanya kurang lebih 13.700 m2 yang dikerjasamakan oleh Zainal Tayeb.

“Dengan Hedar Giacomo Boy Syam yang kemudian kesepakatan tersebut diperjanjikan berdasarkan  Akte nomor 33, yang diterbitkan Notaris BF Harry Pratawan, SH. sehingga pengukuran dilakukan tidak hanya mengacu kepada 8 sertifikat karena 8 sertipikat tersebut termasuk sebagian dari hasil penggabungan dan pemecahan dari 9 (Sembilan) sertipikat induk” jelasnya.

Menurut Alberto, kedudukan palsu saksi korban Hedar Giacomo Boy Syam selaku pembeli tanah amat mudah dipatahkan sejak awal pelaporan di kepolisian. Selain terdapat fakta tidak adanya akte jual beli tanah dari Zainal Tayeb selaku pemiik tanah kepada Hedar Giacomo Boy Syam, penyidik dapat memeriksa 34 orang pembeli perumahan  Ombak Luxury Residence yang dapat menghasilkan petunjuk yang saling berkesesuaian bahwasanya sumber uang untuk pembayaran tanah yang diterima Zainal Tayeb sejatinya dari dari para konsumen.  

Sekali lagi Hedar Giacomo Boy Syam sifatnya hanya pembayaran tanah daei konsumen. Hedar Giacomo Boy Syam malah mau gagahan seolah-olah sebagai pembeli tanah” tukasnya lagi.

Kata Alberto, begitu pula untuk dalil palsu tentang kerugian Hedar Giacomo Boy Syam sebesar Rp. 21 milyar, sangatlah tidak logis. Uang keuntungan hasil penjualan 34 unit rumah pada proyek perumahan Ombak Luxury Residence  yang dibangun sejak tahun 2013-2016, seluruhnya kurang lebih sebesar Rp. 119 milyar  masih ada pada kekuasaan Hedar Giacomo Boy Syam. Padahal berdasarkan akte perjanjian no. 33 hak pembagian keuntungan Zainal Tayeb 50% atau sebesar Rp. 58 milyar hingga kini tidak pernah diberikan Hedar Giacomo Boy Syam.

“Lalu Hedar Giacomo Boy Syam ruginya dimana?”  tukas Alberto lagi.  

 

Kewajiban Lain

Sementara itu FX. Joniono Raharjo, S.H, Mila Tayeb Sedana, SH., DR. Munnie Yasmin, S.H.,M.H.,M.Kn., I Gusti Putu Putra Yudhi Sanjaya, S.H  dan I Komang Mahardika Yana, S.H., M.H kuasa hukum Zainal Tayeb mengatakan, Rp. 119 milyar, Hedar Giacomo Boy Syam (Terlapor) masih memiliki kewajiban lain kepada Zainal Tayeb (Pelapor), yakni antara lain (1) sisa hutang di CIMB NIAGA sebesar Rp. 6 milyar, (2) Penjualan SHM ke Edward Kitt sebesar Rp. 8.279.500.000,-, (3) Rumah Australia sebesar  Rp. 6.250.000.000,- , (4) Rp. 18.000.000.000,- nilai 6 (enam) unit rumah proyek properti Ombak Luxury Residence yang belum terjual dan (5) Pembagian hasil 50% dari keuntungan Kerjasama Pembangunan dan Penjualan perumahan Ombak Luxury Residence, sesuai Akte no. 33 . Sehingga total kerugian yang dialami Zainal Tayeb  akibat tidak diserahkannya uang  yang menjadi haknya oleh Hedar Giacomo Boy Syam kurang lebih sebesar Rp. 120 milyar.

Dalam perjalanan Kerjasama sejak tahun 2012 hingga tahun 2021, Hedar Giacomo Boy Syam (Terlapor) tidak pernah memberikan laporan keuangan termasuk hasil penjualan 34 (tiga puluh empat) unit rumah proyek properti Ombak Luxury Residence kepada Zainal Tayeb, yang menjadi kewajibannya, meskipun telah diminta berlulang kali. Pada sekira bulan Mei – Juni – Juli tahun 2017, Hedar Giacomo Boy Syam berulang kali meminta kepada Zainal Tayeb  (Pelapor) agar pembagian keuntungan dinaikan dari 20% menjadi 50% setelah dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh persero. 

Apabila Zainal Tayeb  (Pelapor) menyetujui kenaikan pembagian keuntungan dari 20% menjadi 50%, Hedar Giacomo Boy Syam (Terlapor) berjanji akan memberikan laporan keuangan hasil penjualan rumah.

“Pada tanggal 27 September 2017, di tengah-tengah hampir selesainya pembangunan proyek properti Ombak Luxury Residence, Zainal Tayeb   akhirnya menyetujui permintaan Hedar Giacomo Boy Syam dan dinotarialkan,” tukas Mila DKK. Berdasarkan fakta tersebut menunjukan, pihak yang paling berkepentingan untuk membuat draft perjanjian dalam akte no. 33, adalah Hedar Giacomo Boy Syam sendiri, karena ingin mengamankan kenaikannya komisi yang dimintanya.

Alih-alih memberikan laporan keuangan hasil penjualan, termasuk  uang-uang kewajiban lainnya total berjumlah  sebesar    Rp. 120.000.000.000 (seratus dua puluh milyar rupiah) kepada Zainal Tayeb,  kata Mila, Hedar Giacomo Boy Syam malah melaporkan Zainal Tayeb, berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP-B/43/II/2020/Bali/Res Badung tanggal 5 Februari 2020. 

“Laporan Polisi Nomor: LP-B/43/II/2020/Bali/Res Badung tanggal 5 Februari 2020 dan LP/195/IV/2021/BALI/SPKT tertanggal 21 Januari 2021, yang ditangani Dirkrimsus Polda Bali merupakan modus dan akal bulus Hedar Giacomo Boy Syam untuk dengan sengaja melawan hukum menguasai uang sebesar Rp. 120.000.000.000 (seratus dua puluh milyar rupiah) milik Zainal Tayeb yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan” ujar Mila lagi.(TIM)

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Bongkar Mega Korupsi Jiwasraya dan Asabri, Kejagung Diapresiasi Pengamat Hukum

Fri, 16 Jul 2021 06:32:49pm

Foto: Istimewa.      JURNAL BATAVIA - Kinerja Bidang Pidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam membongkar dua mega skandal korupsi pada...

Jaga Kepercayaan Masyarakat, Penggeledahan Kantor Bank Harus Lebih Humanis

Fri, 2 Jul 2021 11:02:01pm

Ilustrasi.      JURNAL BATAVIA - Penggeledahan kantor salah satu bank BUMN di Medan oleh aparat penegak hukum yang dikawal polisi...

Persidangan Terdakwa Yuri Pratomo Terungkap Kesaksian Palsu

Wed, 16 Jun 2021 11:43:39pm

Foto: Ilustrasi     JURNAL BATAVIA - Dalam pembuktian pada persidangan dengan terdakwa Yuri Pranatomo di PN Denpasar pada Senin...

Ditengarai Terlibat Mafia Hukum, MA Diminta Awasi Ketua PN Batam

Thu, 10 Jun 2021 09:23:09am

Foto: Gedung Mahkamah Agung (MA) .   JURNAL BATAVIA-Ketua Mahkamah Agung RI, dan Kepala Bawas MA  dituntut aktif melakukan pengawasan...

Bukan Pertama Kalinya Ada Mafia Hukum di Kejati Kepri

Sun, 6 Jun 2021 11:11:22pm

Foto: Gedung Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepulauan Riau.    JURNAL BATAVIA-Dugaan praktek mafia hukum di tubuh Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau...

Bank Mega Diminta Ganti Rugi Dana Nasabah Akibat Dugaan Pembobolan Rp 33,45 Miliar

Tue, 25 May 2021 10:36:10pm

Foto: Ilustrasi.    JURNAL BATAVIA - Sembilan nasabah Bank Mega yang tabungannya diduga dibobol pejabat bank menuntut pimpinan dan pemilik bank...

Atlet Karate Indonesia Bertekad Tingkatkan Prestasi di Kejuaraan Internasional

Sun, 23 May 2021 12:21:43am

Manager Pelatnas Mayjen TNI Sapriadi.    JURNAL BATAVIA - PB FORKI terus bertekad meningkatkan prestasi para atlet karate di Indonesia....

Kejati Banten Sukses Mendorong Percepatan Investasi Sebesar 59 Triliun

Wed, 19 May 2021 09:46:13pm

Foto: Istimewa.      JURNAL BATAVIA - Keberhasilan demi keberhasilan terus ditunjukkan jajaran Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten. Tak cuma...

Purnawirawan, Istri, dan Warakawuri TNI AD di Wilayah Manokwari Papua Barat Mulai Divaksin AstraZeneca

Wed, 19 May 2021 10:00:20am

Foto: Pendam XVIII/Kasuari.   JURNAL BATAVIA - Menindaklanjuti perintah Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa pada...

Ketum Partai UKM Pecat Sekjen Syafruddin Budiman

Sun, 9 May 2021 02:20:48pm

Istimewa.  JURNAL BATAVIA - Partai Usaha Kecil Menengah (UKM) kini dilanda konflik internal. Konflik terjadi antara Ketua Umum Partai...

Berita Terbaru

Politik

Ekonomi & Bisnis

Visitor

Pengunjung Online          :   0
Pengunjung Hari Ini         :   0
Pengunjung Terakhir      :   0
Pengunjung Kemarin      :   16
Total Pengunjung               :   39777